Rabu, 12 Agustus 2015

Saling Cinta Tak Mesti Berjodoh; Abdul Mu'min & Laila


Hidup memang tidak akan pernah lepas dari yang namanya cinta. Setiap orang membawa kisah cinta berbeda di dalam kehidupan dunia ini. Tidak pernah ada yang sama, bahkan dua orang yang terlahir kembar. Kisah cinta mereka sedikit pun tidak sama. Boleh jadi yang satu berbahagia dengan kekasihnya, boleh jadi yang satu menderita keperihan. Karena ternyata kekasih yang bersama saudara kembarnya adalah seorang yang dia cintai. Sungguh tragis.

Dan berikut adalah kisah cinta yang mengharu biru antara dua insan, yang jikalau kisah cinta ini di dongengkan kepada langit, maka selamanya langit akan menurunkan hujan. Tidak pernah berhenti.

Abdul Mu’min. Ya, itu-lah nama sang lelaki yang sedang merasakan manisnya kasmaran kepada seorang gadis yang bernama Laila. Bunga-bunga cinta bermekaran di dalam hatinya. Ia jatuh cinta kepada Laila seorang gadis cantik yang sudah lama ia kenal.

Selama mencintai Laila, sedikit pun dia tidak pernah berbicara mengutarakan perasaan cintanya. Apalagi untuk mengutarakan, untuk sekedar memandangnya saja dia tidak berani. Sampai pada ahirnya terdengar kabar bahwa Laila pun mencintainya. Sungguh bukan main, betapa bahagia dirinya. Dia benar-benar merasa terbang di angkasa yang luas, menikmati kesejukan udara yang membelai seluruh tubuhnya. Cintanya ternyata bersambut. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Ya, memang wajar jika Laila mencintai Abdul Mu’min. Bahkan wajar jika setiap wanita di jagat raya ini mencintai Abdul Mu’min. Seorang lelaki yang terkenal dengan kepribadiannya yang santun, lembut dan ramah. Tidak hanya itu. Dia ternyata seorang Imam sholat di masjid kampusnya. Dia memiliki suara yang sangat indah. Lantunan tilawahnya begitu merdu mendayu. Siapa pun yang menjadi makmum di belakangnya, maka selamanya ia tidak ingin ruku’. Tilawahnya yang menawan, menjadikan para makmum betah berdiri di dalam barisan sholat.

Dan suatu hari di waktu Maghrib, Laila menyempatkan diri ikut sholat berjama’ah di masjid kampus. Sebelumnya dia tidak pernah tahu, kalau ternyata orang yang menjadi Imam sholat adalah lelaki yang dicintainya, Abdul Mu’min. Sehingga ketika dia melihat Abdul Mu’min berjalan menuju mihrab dan iqamat dikumandangkan, hatinya berdegup kencang. Padahal jarak barisan sholat kaum wanita jauh 10 meter dari barisan sholat kaum lelaki, dan itu pun ditambah sater (kain penutup). Laila merasa seakan-akan dia berdiri dekat di belakang Abdul Mu’min. Dia merasa bahwa hanya ada dia dan Abdul Mu’min yang sedang menjalankan ibadah sholat di masjid. Tilawah sang Imam terdengar syahdu, masuk ke relung hati. Maka semenjak saat itu, Laila pun benar-benar bertambah kagum dan cinta kepada Abdul Mu’min.

Seiring berjalannya waktu. Cinta keduanya bertumbuh dan berkembang. Abdul Mu’min langsung mengambil sikap dan memutuskan untuk melamar Laila. Dia mengirim surat kepada Laila.

“Laila, tidaklah bagus kiranya jika hal ini terus terjadi. Aku tidak sanggup mencintaimu dalam keadaan diam seperti ini. Aku ingin mencintaimu lebih dari sekedar diam. Aku ingin mencintaimu seperti angin yang berhembus, membelai dahan-dahan pohon, menggugurkan daun-daun yang kering. Aku akan melamarmu.”

Dan Laila pun membalas,
“Semoga Allah mempermudahmu dalam urusan yang engkau kehendaki. Sungguh aku sangat hawatir jikalau kedua orang tuaku tidak merestui.”

Abdul Mu’min tidak terlalu menghiraukan kalimat ahir dari isi surat itu. Dia sudah bertekad bulat untuk melamar Laila. Urusan direstui atau tidak, itu adalah belakangan. Dia sudah benar-benar siap menerima segala kenyataan yang akan terjadi.

Dan benar saja. Sesuatu yang dihawatirkan Laila pun terjadi. Kedua orang tua Laila tidak menanggapi lamaran Abdul Mu’min. Kedua orang tuanya menolak, karena ternyata Laila sudah dijodohkan dengan lelaki lain. Laila sendiri pun baru mengetahui hal tersebut, setelah mendengar pembicaraan antara kedua orang tuanya dengan Abdul Mu’min. Laila bersedih, apalagi Abdul Mu’min yang merasa dihianati. Dia sangat bersedih dan bergumam dalam hati, “Laila menyembunyikan pisau tajam, lalu menusukkannya kepadaku. Luka macam apa ini? sungguh perih.”

Semenjak penolakan lamaran itu, Abdul Mu’min memutuskan untuk pergi meninggalkan kampusnya. Dia pergi keluar kota. Abdul Mu’min merasa tidak sanggup menahan perih lukanya. Cintanya yang membara dipaksa untuk padam. Sungguh hal yang mustahil.

Dan di sisi lain, Laila merasa sangat geram terhadap keputusan kedua orang tuanya. Padahal Abdul Mu’min adalah seorang pemuda tampan yang tidak diragukan lagi kesholihannya. Namun tetap saja kedua orang tuanya lebih menitik beratkan nasab. Ya, Abdul Mu’min memang bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga yang bernasab terpandang. Tapi siapa yang mengira bahwa kedudukan Abdul Mu’min di sisi Allah jauh lebih terpandang dan mulia daripada para raja dunia seluruhnya. Tidak ada kedudukan yang paling mulia, melainkan di saat seorang hamba berada dalam kesholihan dan keta’atan kepada Rabbnya.

Setiap hari Laila dirundung kesedihan yang mendalam, ditambah rasa bersalahnya yang terus menghantui. Dia terus bergumam lirih, “Ma’afkan aku ab (panggilan Abdul Mu’min), aku pun tidak tahu jikalau aku sudah dijodohkan. Sungguh aku merasa perih. Kamu telah pergi, pergi, dan pergi. Tapi aku yakin, bahwa cinta ini akan membawamu kembali, walau mungkin hanya untuk sebentar saja.”

Laila menangis sedu, mata sembab, “Yaa Allaah…”, teriaknya lalu tergeletak di atas kasur. Ia tertidur.


########


Di kampus, Laila seperti bunga layu yang ditinggal mentari. Tidak ada keindahan yang terlihat darinya, tidak ada lagi keanggunan yang nampak darinya. Gadis cantik yang kini ditinggal pergi oleh seorang lelaki yang sangat dicintainya. Laila hancur. Hari-harinya berubah kelam. Pekat.

Dan di malam hari, di atas sajadahnya Laila menghabiskan waktu untuk bermunajat di hadapan Rabbul ‘Alamin. Dia memohon dan terus berdo’a. Dia menyerahkan segala urusannya hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa.

“Yaa Allaah, aku jatuh cinta kepada salah seorang hambaMu yang mana Engkau lebih mengetahui tentangNya. Dia adalah hambaMu yang sholih sepanjang yang hamba ketahui, dan sepanjang yang hamba dengar dari penuturan orang-orang. Jika memang benar adanya cinta hamba kepadanya ini karenaMu, maka mohon izinkanlah hamba untuk menjadi kekasih halalnya, walau untuk sebentar saja. Hamba mohon yaa Rabb.. mohon dengan sangat. Cinta ini datang dariMu, maka hamba kembalikan, hamba titipkan, dan hamba sandarkan hanya kepadaMu agar Engkau memberkahinya, lalu Engkau hantarkan cinta itu kepada dia yang hamba cinta. Abdul Mu’min. Pergerakkanlah kakiNya yaa Rabb, agar dia datang menjumpai bidadarinya ini yang sedang keperihan menantinya.”

Dia melakukan hal tersebut hampir di sepanjang malam di setiap harinya. Sehingga kondisi fisiknya melemah, dan ahirnya dia jatuh sakit. Parah. Matanya lebam akibat kurang tidur. Tubuhnya panas-dingin. Kadang ia menggigil seperti orang yang kedinginan dan kadang ia menggeliat seperti orang yang kepanasan.

Mengetahui kondisi Laila yang demikian, kedua orang tuanya langsung bergegas membawanya ke rumah sakit. Laila harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu. Sampai sembuh atau sampai bagaimana Allah berkehendak (ilaa masyaa Allaah).

“Ayah, bagaimana ini? Laila sakit apa?,” tanya ibu.

“Entahlah, tunggu kabar dari dokter saja,” jawab ayah.

Keduanya tampak begitu cemas dan hawatir terhadap keadaan Laila. Apalagi Laila adalah anak semata wayang yang mereka miliki. Mereka tidak ingin hal buruk terjadi menimpanya.

Dua tiga hari berlalu dan Laila masih terbaring lemas. Dia sadar, tapi pikirannya pudar. Matanya terbuka, tapi hatinya berkelana.

“Abdul Mu’min,” lirih bibirnya menyebut nama itu. Lalu ia menangis. Air matanya berlinang deras membasahi pipi. Ia sesenggukan.

“Aaaaaabbb,” tiba-tiba teriaknya keras, sehingga mengagetkan kedua orang tuanya yang sedang duduk di balik pintu ruang perawatan.

Spontan kedua orang tuanya bergegas masuk ke dalam.

“Laila, ada apa?,” tanya ibu dan ayahnya.

Laila diam saja. Ia hanya menangis dan sesenggukan.

“Laila, kamu jangan bikin ibu dan bapak hawatir nak,” tutur ibunya lembut.

Laila tetap diam. Seakan tidak mendengar suara apa pun. Matanya kosong memandang ke luar jendela.

“Dia akan kembali,” bisiknya.

Ayah dan ibu laila semakin tidak mengerti dengan keadaan puterinya. Tiba-tiba ia berucap, “dia akan kembali”. Siapa dia yang dimaksud?. Kedua orang tuanya berpikir mencoba memahami maksud ucapan puterinya “dia akan kembali”.

“Abdul mu’min!, iya, abdul mu’min,” ucap ibu.

“Sudahlah bu, jangan ungkit lagi lelaki itu, hawatir laila mendengar,” kata ayah, “Dan ibu harus ingat! Bahwa laila sudah kita jodohkan,” lanjut ayah dengan tegas. 

“Tidak ayah, justru ini ada kaitannya dengan Abdul mu’min. Ibu adalah wanita. Sangat mengerti bagaimana perasaan wanita,” jelas ibu. “Kita harus mendatangkan abdul mu’min kesini. Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama laila, apalagi sampai mengganggu kejiwaannya. Adapun urusan perjodohan, kita serahkan saja bagaimana Yang Maha Kuasa mengaturnya,” lanjut ibu, "Yang penting sekarang adalah bagaimana supaya laila bisa sembuh," tegas ibu kemudian.

“Terserah ibu sajalah, silahkan ibu yang mengurus hal itu,” ucap ayah sekilas berlalu keluar.

“Halo, assalamu’alaikum.. abdul mu’min?!,” ibu memanggil dari balik handpone.

“Wa’alaikumussalam warohmatullah.. iya benar. ini dengan siapa?,” tanya abdul mu’min.

“Ini ibu laila, bagaimana kabarmu nak?,” tanya ibu.

“Alhamdulillah bu, aku baik-baik saja. Ibu bagaimana,” abdul mu’min balik bertanya.

“Alhamdulillah ibu juga baik, tapi..,” ibu terhenti dari bicaranya.

“Tapi? Tapi kenapa bu?,” tanya abdul mu’min penasaran. Mulailah timbul firasat di kepalanya. Laila?.

“Laila di rumah sakit nak, sudah hampir seminggu ini dia dirawat. Dia sering berucap, ‘dia akan kembali, dia akan kembali’. Ibu yakin, bahwa kamu-lah yang dimaksud laila,” papar ibu kepada abdul mu’min. “Kemarilah nak, temui laila,” lanjut ibu seraya memohon.

Abdul mu’min tidak berpikir panjang lagi. Dia langsung berangkat pulang, kembali ke kotanya untuk menemui laila. Padahal sebenarnya dia sedang disibukkan oleh banyak pekerjaan dan tugas-tugas. Tapi untuk laila. Semuanya itu diabaikan. Abdul mu’min memang sudah kepalang rindu pada laila. Hampir setiap malam dia memikirkan bagaimana supaya bisa berjumpa dengan laila. Ingin menghubungi nomor handponnya, tapi abdul mu’min merasa takut dan malu. Ya, takut dan malu kepada Allah. Karena laila bukanlah wanita halal baginya. “Sungguh binasalah aku!”, ucapnya disuatu malam. Air matanya meleleh membasahi pipinya. “Ya Allah, ampunilah aku!,” lirihnya seraya merundukkan kepala.


########



Disepanjang jalan. Abdul mu’min tampak begitu cemas. Ia tidak tenang. Semakin jarak mendekat. Semakin ia tegang. Ia kehilangan konsentrasi mengendarai motornya. Dubrakkkkkk…! Tiba-tiba sebuah mobil besar menabraknya. Ia terlempar jauh.

“Aaaaabbb!,” teriak laila di ruang perawatan. Ia terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi.

Laila melihat jam dinding. Tepat pukul 2 pagi. Ia menangis. Air matanya deras mengalir. Terbayang hal yang buruk menimpa abdul mu’min.

“Ab, aku sangat mencintaimu. Aku ingin halal bersamamu. Aku ingin dipelukmu. Aku ingin keningku dicium olehmu. Aku ingin menyatukan jemariku dengan jemarimu,” lirih laila dengan deraian air mata yang terus mengalir.

Laila menyingkap tirai jendela. Langit masih tampak begitu gelap. Tiada keramaian sinar gemintang. Tiada keceriaan cahaya rembulan. Gelap. Pekat. Gulita. Persis menggambarkan suasana hatinya. Saat itu, laila belum mengetahui perihal kepulangan abdul mu’min untuk menemuinya. Ya, menemuinya. Sebab, sang ibu merahasiakan hal itu.

Laila tampak begitu kosong. Ia seperti kehilangan harapan. Cintanya membuncah. Rindunya merantah. Pikirannya gelap. Matanya pudar. Tangannya menggerayang mencari sesuatu. Dapat. Pisau.

“Lebih baik aku mati saja,” ucapnya.

Benar saja. Ia mulai mengiriskan pisau di pergelangan tangannya. Tapi agak ragu. Mulai berpikir lagi.

“Bodoh!, apa ini?,” ucap laila seraya melemparkan pisau ke tempat sampah. Dia mengurungkan niatnya. Lalu tidur. Memejamkan mata. Lelap.


########



“Alhamdulillaah, untunglah aku selamat,” ucap abdul mu’min dengan hati yang berdebar-debar.


Abdul mu’min selamat, tapi motornya tiada rupa. Hancur. Penyok. Tidak layak pakai. Untunglah sopir mobil truk yang menabraknya baik hati. Ia bertanggung jawab. Benar-benar lelaki.


“Aduh! ma’af pak. Mata saya kabur. Saya tidak begitu jelas melihat arah depan,” tutur sang sopir, yang ternyata dia masih lebih muda daripada abdul mu’min. Ia gemetar. Takut. Risau. “Pak, jangan laporkan saya ke polisi yah,” lanjutnya memelas.

Abdul mu’min tersenyum. Dia tampak begitu tenang. Seakan mengabaikan keadaan motornya.

“Alhamdulillaah, tenang saja pak. Ketidaksengajaan itu lebih berhak untuk dimaklumi dan dimaafkan. Saya tidak marah dan tidak akan melapor ke polisi. Lagi pula saya selamat. Alhamdulillaah,” begitu lembutnya abdul mu’min.

“Silahkan pak, kalo mau berangkat lagi. Barangkali bapak membawa barang atau amanah yang harus segera dihantar,” lanjutnya seraya mengarahkan pak sopir ke arah mobilnya. Sengaja agar pak sopir tidak melihat keadaan motornya yang sekarat.

“Terimakasih pak, saya memang betul-betul tidak sengaja,” ucap pak sopir seraya menyalami tangan abdul mu’min. Lalu ia pergi berlalu dengan mobil truknya.

Kini, abdul mu’min bingung. Jalanan sepi. Waktu masih pekat malam. Motornya hancur. Penyok. Lampu depannya pecah. Pelek bannya bengkok. Pejakan gigi motornya entah nyeliep kemana?. Tapi untunglah masih bisa diseret.

Sekitar 500 meter ke depan ada masjid. Ya, masjid. Abdul mu’min berencana menitipkan motornya disana. Tapi harus menyeret sejauh 500 meter. Jika dilihat-lihat, dia tampak seperti maling. Berjalan di malam pekat. Menyeret-nyeret motor. “Maliiiiiinggggg…!” untunglah tidak ada orang yang berteriak demikian.

“Alhamdulillaah, sampai juga,” abdul mu’min sampai di muka gerbang masjid. Dilihatnya tiada orang. Dia masuk bersama motor penyoknya.

Sedari tadi, abdul mu’min terlihat begitu tenang. Seakan tidak ada masalah yang menimpanya. Padahal dia baru saja ditimpa kecelakaan. Motornya penyok. Perjalanan pulangnya menuju laila tertunda. Ditambah jarak yang masih jauh. Butuh 3 atau 4 jam lagi baru sampai.

“Yaa Allaah, sungguh begitu nikmat terasa urusanMu. Engkau perdengarkan kabar duka tentang laila. Lalu Engkau menghendaki hamba untuk menemuinya. Dan di tengah jalan, Engkau timpakkan musibah ini. Apatah lagi jika bukan ikhlas dan sabar sebagai sikap yang paling tepat?,” lirih abdul mu’min seraya memandang langit.

Sedikit demi sedikit air matanya meleleh.

“Yaa Allaah, peluklah sejenak tubuh ringkih ini, bismillaah,” abdul mu’min merebahkan tubuhnya. Ia lelah. Dan terpejam.

Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! adzan subuh terkumandang. Abdul mu’min pun bangun.

“Alhamdulillaah, sudah masuk waktu pagi,” bisiknya.

Dia beranjak dari rebahannya. Menuju tempat wudhu. Ia berwhudu dan kemudian memasuki masjid dan sholat sunnah qabliyah 2 roka’at.

Selesai sholat sunnah, iqamat belum juga dikumandangkan. Ia menoleh ke-kanan ke-kiri. Melihat jama’ah yang sudah berkumpul.

“Pak, tidakkah sholat segera dimulai?” tanyanya pada seorang bapak muadzin yang nampak sudah begitu tua.

“Adek bisa menjadi imam. Qadarullaah, petugas imam masjid ini sedang sakit. Jika bapak yang menjadi imam, hawatir suaranya habis,” tutur bapak muadzin seraya memberikan penawaran.

“Silahkan!” tambahnya lagi mempersilahkan abdul mu’min.

“Alhamdulillaah, terimakasih pak. Tapi saya pakai celana, hawatir menyelisihi adat disini,” ucap abdul mu’min.

“Tidak apa dek. Ayo silahkan,” bapak muadzin mempersilahkan dan sekilas mengumandangkan iqamatnya.

Selesai sholat.

“Subhanallaah, lantunan tilawah adek begitu merdu,” ucap bapak muadzin memuji abdul mu’min.

“Alhamdulillaah, terimakasih pak,” jawabnya singkat. “Oh iya pak, boleh saya nitip motor saya di masjid ini?” lanjutnya.

“Insyaallah boleh, dimana motornya,” tanya bapak muadzin.

Setelah ditunjukkan ke arah motornya, bapak muadzin tersebut kaget.

“Inna lillaah, kenapa penyok-hancur begini?,” tanya bapak muadzin.

Abdul mu’min hanya tersenyum. Tidak memberikan penjelasan apa pun. Lalu sejenak dia teringat sesuatu. Laila.

“Astaghfirullaah, laila,” ucapnya seraya bergegas pergi berlari menuju jalan raya. “Pak nitip yah,” teriaknya sambil menoleh ke belakang.

“Ya insyaallah,” jawab bapak muadzin. Belum sempat bertanya mau diapakan motornya, abdul mu’min keburu masuk ke dalam bus. Berangkat. Hilang ditelan kejauhan. 


########


Setelah berjam-jam melalui perjalanan, ahirnya Abdul Mu’min tiba di rumah sakit. Ia pun merogok hape di kantongnya, kemudian, “Assalamu’alaikum, ibu, alhamdulillah saya sudah tiba di rumah sakit, kalau boleh tahu, laila di kamar apa dan nomor berapa yah?” tanya Abdul Mu’min pada seorang wanita di balik hapenya; ibu laila.

“Alhamdulillah nak, kamu sudah datang. Ayo nak, segera kesini, laila di kamar mawar nomor 5,” terang ibu laila.

“Baik bu, terimakasih, insyaallah saya segera kesitu,” tanggap abdul mu’min seraya langsung mematikan hapenya.

Abdul mu’min berjalan terengah-engah, napasnya tak karuan, jantungnya seakan lepas dari dadanya. Sekujur tubuhnya pun mulai dibasahi oleh keringat.

“Ya Allah,  dadaku,” bisiknya dalam hati sambil terus berjalan menuju kamar laila. Rasanya ia tak sabar untuk segera berjumpa dengan laila.

Lalu kemudian ia teringat sesuatu, “Astaghfirullah, seharusnya aku tidak sampai sejauh ini, kenapa aku lupa bahwa laila sudah dijodohkan. Ya Allah, hamba tak ingin merusak kebahagiaan orang lain, apalagi saudara semuslimku.” 

Tapi kini ia tepat berdiri di depan pintu kamar perawatan laila, “Assalamu’alaikum,” ucap abdul mu’min, “Assalamu’alaikum,” ucapnya lagi.

Laila yang sedang terjaga di dalam kamar sangat mengenal suara tersebut. Ia merasa seperti mimpi. Tak percaya. Sebab, ibunya belum memberi tahu bahwa abdul mu’min akan datang menjenguknya.

“Suara itu… Suara abdul mu’min,” ucapnya seraya menoleh ke ibunya. Ia nampak terkejut dan merasa heran, “Benarkah ia datang kesini?” tanyanya kemudian dalam hati.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” jawab ibu laila, “Silahkan masuk!” ucapnya kemudian mempersilahkan.

Cieeeettttt! Suara pintu terbuka. Abdul mu’min pun melangkahkan kakinya perlahan. Ia masuk kamar. Segera saja ia disambut oleh ibu laila. Tapi, wajah abdul mu’min tampak pucat pasi. Dan… belum juga sempat ia berjumpa dan menatap wajah laila, tiba-tiba kamar menjadi gelap. Dimana laila?...... Gubrak! abdul mu’min lunglai, jatuh tersungkur di atas lantai.  

La haula wa la quwwata illa billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Mata abdul mu'min lebih dahulu terpejam sebelum ia sempat menatap wajah cantik laila. 

Innalillahi wainna ilaihi raji’unAbdul mu’min meninggal dunia. Ia wafat dikarenakan kelelahan, yang menyebabkan jantungnya melemah kemudian berhenti berdenyut. Abdul mu'min ternyata memiliki riwayat penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.

Cinta, barangkali bisa membawa seseorang datang kepadamu, atau membawamu datang kepada seseorang. Tapi cinta, tak bisa berbuat apa-apa, saat kematian yang terlebih dahulu datang.

“Kedatanganmu selalu kunanti, tapi penantianku justru membuatmu pergi selamanya,” Laila menangis. Air matanya berlinang membasahi pipinya. Sedu

"Aaaaaabbbb," serunya terisak. Kemudian pingsan.


*Cerpen ini terinpirasi dari kisah nyata yang dituturkan oleh salah seorang ustadz di Jakarta, yaitu tepatnya di tengah obrolan makan siang ba'da jum'at. Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahi segala aktifitas beliau. Aamiin.

Selasa, 11 Agustus 2015

Saif dan Zizi ; Memang Jodohnya



Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia lah yang mengatur segala urusan hamba-hamba-Nya, Dia berhak berbuat apa saja sekehendak-Nya, dan sesungguhnya urusannya adalah apabila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia tinggal berkata, “Jadilah!” maka sesuatu itu pun benar-benar terjadi.

Insyaallah, pada tulisan ini, aku ingin bercerita mengenai pengalaman seorang sahabat senior yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri. Ini adalah pengalaman ketika dia melamar seorang wanita. Kita sebut saja nama sahabatku itu; Saif.

Hari itu, Saif dikenalkan dengan seorang wanita oleh seorang ustadz yang tidak lain ustadz itu adalah temannya sendiri. Dia dikenalkan dengan wanita tersebut hanya baru sebatas nama saja dan sedikit tentang pribadinya. Dan kita sebut saja wanita itu; Zizi, seorang santriwati yang baru saja lulus dari pondok pesantren.

Mendengar tentang Zizi, Saif merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk Zizi, “Aduh ustadz, ana ini orangnya tahu diri,” lirihnya kepada ustadz, “Sudahlah, ayo lamar saja,” ustadz meyakinkan.

Karena merasa diri tidak pantas, ahirnya Saif pun berinisiatif untuk menawarkan Zizi kepada sahabat-sahabatnya yang dirasa lebih pantas untuk Zizi. Padahal dia sendiri pun belum pernah melihat Zizi secara langsung. Hanya baru tahu nama dan sedikit tentang pribadinya.

Tahu siapa yang didatangi? Ya, aku salah satunya.

Saif mendatangiku,
“Za, antum mau menikah tidak? Ada akhwat sepertinya cocok buat antum,” tawarnya kepadaku.
Tapi aku hanya tersenyum sambil memberi isyarat bahwa aku belum ingin menikah, “Buat antum saja,” kemudian ucapku.

“Tapi, ana sudah ada wanita lain,” terangnya.
“Istikhorokan saja dulu! Jangan terlalu yakin dengan wanita yang belum sah atau halal untukmu dan jangan menentukan pilihan sebelum meminta pilihan yang terbaik kepada Allah,” jelasku kepadanya.

*****

Semakin hari berlalu, semakin Saif merasa bimbang,
“Maju, tidak. Maju, tidak. Ah, ana orang yang tahu diri, ana tidak pantas untuk Zizi,” bisiknya dalam hati sambil mengeratkan gigi-giginya dan mengepalkan tangannya. Geram.
“Kalau ana maju, lalu bagaimana dengan miya (wanita yang sedang menjalin hubungan dengannya, tapi jaraknya berjauhan terpisah beberapa kota)? Dia pasti akan marah jika mengetahui ana melamar wanita lain,” pikirnya bingung.

Alhamdulillah, di tengah kebingungan itu, Allah menggerakkan hati dan anggota tubuhnya untuk menghadap-Nya. Dan ini merupakan rahmat dan taufiq dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuknya. Dan tidaklah seorang hamba itu diberi taufiq oleh Allah melainkan karena adanya ilmu pada dirinya.

Saif pun shalat istikhoro, menghadapkan hati dan anggota tubuhnya di hadapan Al Jabbar Al ‘Aziz Al Hakim. Tidak hanya sekali, tapi Saif mengulangi istikhoronya sampai dua kali agar hasilnya terasa mantap, yakin dan tenang di hati.

Selang beberapa hari setelah sholat istikhoro, ahirnya Saif pun merasa cenderung untuk melamar Zizi. Hatinya terasa mantap, yakin dan tenang.

Alhamdulillah, Saif mendapat nomor hape Zizi dan langsung meng-sms-nya,
“Assalamu’alaikum,” pesannya.
“Wa’alaikumussalam, ini siapa?” balas Zizi.
“Alhamdulillah. Langsung dibalas,” bisik Saif dalam hati sambil tersenyum dan menempelkan hapenya di dada. Dipeluk erat. Tanda bahagia.
“Anti bisa jaga amanah jika ana mengenalkan diri?” pesannya lagi ke Zizi.
“Iya, Insyaallaah,” balas Zizi.
“Ana Saif, guru di SD (sensor). Ana mau bertanya, anti sudah ada yang melamar belum?” tanyanya.
“Belum,” jawab Zizi.

*****

Setelah merasa diri sudah mantap, dia pun mendatangi ustadznya,
“Ustadz, insyaallah ana positif untuk melamar Zizi, tapi ana ingin nazhor (istilah nikah; melihat calon pengantin wanita) terlebih dahulu.”
“Alhamdulillah, kalau begitu besok kita langsung ke rumah Zizi,” tegas ustadz.

Hari cepat berganti, kemarin berlalu, dan esok menjadi sekarang, ya sekarang lah waktu bagi Saif untuk menazhor Zizi, calon pengantinnya.

Di sepanjang perjalanan, Saif merasa kurang percaya diri, tubuhnya gemetaran layaknya orang kedinginan, jantungnya berdegup kencang seakan hampir keluar menembus dadanya. Tapi kemudian dia menatap langit, berdo’a, “Yaa Rabb, yassir li amri (yaa Rabb, mudahkanlah urusanku)”
“Alhamdulillah sudah sampai,” ustadz memberhentikan motornya.
Tidak terasa, perjalanan terasa begitu cepat. Kini, Saif dapat melihat pintu rumah Zizi,
“Ustadz, cukuplah! Cukup melihat pintu rumahnya saja. Ayo kita pulang,” ucap Saif merasa minder untuk melanjutkan langkahnya.
“Loh, belum perang ko’ sudah menyerah. Ayo akhi, gagahkan diri antum, tajamkan pandangan, luruskan niat hati, bismillah,” ustadz memberi semangat seraya merangkul pundaknya, “Ayo akhi, kita jalan,” lanjut ustadz sambil menghentakkan langkah kaki yang pertama. Duk!

Pintu rumah Zizi pun diketok. Tok tok tok, “Assalamu’alaikum!” tok tok tok, “Assalamu’alaikum,” ustadz mengulangi ucapan salamnya. Saif yang berada di sampingnya hanya berdiri diam, tapi mulutnya nampak berkomat-kamit, persis seperti embah dukun. Entah mantra apa yang dibaca?
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” terdengar suara balasan dari dalam rumah. Suara lelaki yang sepertinya itu adalah bapaknya Zizi.

Dan benar saja, itu adalah bapaknya Zizi.
“Assalamu’alaikum pak, apa kabar?” ucap ustadz seraya menyalami tangan bapak Zizi.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillah baik,” jawab bapak Zizi, “Ayo silahkan duduk!” lanjutnya.

Ustadz pun langsung to the point, mengutarakan maksud kedatangannya,
“Begini pak, ini saudara kami Saif datang ke rumah bapak bermaksud ingin menazhor putri bapak yang bernama Zizi. Disini saya sebagai pendamping saja.”
“Alhamdulillah, saya merasa senang jika memang demikian maksud kedatangan kalian,” ucap bapak Zizi, “Ziiii, ziiii, kesini nak! Ini ada ikhwan yang mau nazhor,” Zizi pun dipanggil.
“Iya pak, Zizi mau memakai kaos kaki dulu,” sahut lembut Zizi.
“Tidak usah memakai kaos kaki nak, biarkan calonmu ini melihatmu dari ujung kepala sampai ujung kaki,” ucap bapaknya.

Saif yang sedari tadi diam, nampak menelan ludah, seraya membaguskan posisi duduknya. Dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya pelan-pelan, “Bismillah,” lirihnya.

Deg, deg, deg, deg, deg! Seisi rumah tiba-tiba nampak gelap. Saif linglung. Menengok ke kanan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Napasnya kini mulai tak beraturan. Ia terengah-engah. Keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya.

“Nak Saif, ini putri bapak,” ucap bapak Zizi mengagetkan lamunannya.
“Mana? Mana? Mana?” tanyanya berulang-ulang salah tingkah. Maklum, kesadarannya baru pulih. Dan…
Mata Saif pun mendapati sosok wanita cantik yang wajahnya berseri bagai purnama yang bersandingkan sejuta bintang. Wanita itu, tepat berada di hadapannya. Cantik jelita.
“Subhanallah,” bisik Saif dalam hati, kemudian langsung memalingkan pandangannya.
“Bagaimana nak Saif? Sudah melihat putri saya,” tanya bapak Zizi.
“Alhamdulillah, cukup pak,” jawab Saif sambil menganggukkan kepalanya.

Zizi nampak tersenyum, dan ia pun sempat melirik ke Saif yang wajahnya nampak damai, dan terasa ketenangan dari raut wajahnya tersebut.

*****

Semenjak kepulangannya dari menazhor, wajah Zizi mulai terbayang-bayang di pikirannya,
“Subhanallah, ternyata dia adalah wanita yang cantik,” lirih Saif sambil menatap langit-langit kamarnya dan merangkul erat bantal gulingnya.

Saif mulai merasakan ada getaran di dalam hatinya, getaran yang membuatnya semakin yakin untuk segera menikah. Tapi kemudian, timbul di benaknya perasaan ragu, jangan-jangan nanti dia ditolak.

Sebab, mengingat kejadian yang pernah berlalu, bahwa dia pernah melamar seorang wanita, namun ternyata dia disambut dengan kurang baik. Dia pulang dengan perasaan kecewa, merasa diri seperti orang yang paling bodoh. Awalnya sang wanita meyakinkan, namun akhirnya menghancurkan.
“Zizi, kamu adalah wanita baik dan cantik. Aku adalah orang yang tahu diri, aku tidak pantas untukmu,” Saif bergumam di dalam hatinya.
“Assalamu’alaikum,” Saif pun mengirim pesan ke Zizi.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh,” balas Zizi.
“Zi, kamu mau tidak jika menikah dengan sahabatku, dia lebih baik dariku,” pesannya ke Zizi.
“Aneh! Kemarin yang menazhorku kan kamu, ko’ malah kamu menawarkan orang lain? Aku ini bukan barang yang mudah di oper sana-oper sini,” jelas Zizi.
“Bukan begitu maksudku, sebenarnya aku hanya ingin jawaban darimu, apakah kamu menerimaku?” tanya Saif.
“Beri aku waktu satu minggu untuk berpikir,” pinta Zizi.
Membaca pesan tersebut, Saif mulai gelisah dan bimbang. Dia tidak mungkin menunggu selama itu. Jemuran saja, jika digantung satu hari, langsung kering, kalau digantung sampai tujuh hari, entah jadi apa itu jemuran?. Apalagi hati yang bimbang, bisa sekarat.
“Zi, aku tidak mau digantung selama itu, aku tidak bisa menunggu selama satu minggu, kalau kamu memang tidak menerima, ya bilang saja sekarang kalau kamu tidak menerima, aku tidak apa-apa ko. Jangan terima aku yah,” balasnya ke Zizi.
“Ko malah jangan diterima! Ya sudah, besok atau lusa saja jawabannya,” Zizi mulai merasa heran dengan sikap Saif. Baru bernazhor, belum menghitbah, tapi Saif malah minta ingin ditolak.
“Baiklah, aku menunggu jawaban darimu” balas Saif.

*****

Keesokan harinya, “Aku menerimamu, maka segeralah khitbah aku (Istilah nikah; meminang)” Zizi mengirim pesan ke Saif.
“Alhamdulillah, aku diterima,” teriak Saif mengucap syukur seraya bersungkur sujud di hadapan Yang Maha Kuasa.

Saif merasa bahagia dan langsung membalas pesan dari Zizi, “Alhamdulillah, terimakasih Zi sudah mau menerimaku, tapi bagaimana dengan ke-dua orang tuamu?” tanya Saif.
“Kamu datang saja ke rumah, langsung lamar aku,” pinta Zizi.
“Tapi aku ragu dan takut ditolak oleh ke-dua orang tuamu. Aku ini hanya lelaki biasa,” Saif merasa minder dengan kondisinya.
“Jangan takut! Bapakku orangnya baik ko dan enak diajak ngobrol. Ayo semangat! Lamar aku,” Zizi menyemangati.

Membaca pesan dari Zizi tersebut, gairah Saif pun bergejolak, semangatnya membara, gigi-giginya mulai menampakkan taring kejantanannya. Tring!
“Tapi aku ingin bertanya, ko dengan gampangnya kamu menerimaku?” tanya Saif.
“Aku hanya yakin bahwa kamu adalah lelaki yang mampu bertanggungjawab, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku,” jelas Zizi.
“Alhamdulillah, baiklah. Tunggu aku melamarmu! Segera tanpa nanti insyaallah,” balas Saif dengan mantap.

*****

Kini, tibalah waktu pembuktian, bahwa Saif memang seorang pejantan tangguh.
“Assalamu’alaikum, insyaallah sekarang juga aku akan mendatangi rumahmu,” pesan Saif ke Zizi.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, silahkan!” balas Zizi.
“Baiknya, aku sendirian atau mengajak orang lain?” tanya Saif.
“Sendiri saja, kamu harus jantan,” tegas Zizi.
Ini merupakan tantangan telak bagi Saif.
“Siapa takut?!” balas Saif, padahal tangannya sedang gemeteran menggenggam hape.
“Bismillah,” bisiknya dalam hati.

Saif bersiap-siap untuk segera berangkat menuju rumah Zizi. Dia memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, menyisir rambut, de el el. Tapi dia lupa satu hal. Dia belum memakai celana. *upz, hehe  

Setelah siap, Saif pun berangkat. Dia sudah benar-benar mantap untuk mengkhitbah Zizi. Apalagi Zizi sudah memberi lampu hijau. Dia mengingat kembali pesan yang pernah dikirim oleh Zizi kepadanya, “Jangan takut! Bapakku orangnya baik ko dan enak diajak ngobrol. Ayo semangat! Lamar aku.” Pesan itu membakar segala keraguan yang ada di benaknya. Saif hanya perlu keyakinan, bahwa dia bisa menaklukan hati kedua orang tua Zizi.

Langkah demi langkah, ahirnya Saif sampai di depan rumah Zizi. Dia menatap rumah itu, “Zizi, insyaallah kamu akan menjadi permaisuriku,” lirihnya sambil mengepalkan jemari-jemari tangannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Saif sedikit berteriak.
“Wa’alaikumussalam,” pintu rumah terbuka, ternyata bapak Zizi yang menyambutnya.
“Eh, nak Saif, ayo silahkan masuk,” bapak Zizi mempersilahkan, “Bagaimana kabarmu?” lanjutnya.
“Alhamdulillah pak, selalu baik. Bapak dan keluarga bagaimana?” tanya Saif.
“Alhamdulillah, semuanya dalam keadaan baik,” jawab bapak Zizi.
“Begini pak, kemarin kan saya sudah menazhor puteri bapak, dan Alhamdulillah sekarang saya datang lagi untuk langkah selanjutnya,” ucap Saif langsung to the point.
“Apa itu langkah selanjutnya?” canda bapak Zizi, pura-pura tidak tahu.
“Ya, selanjutnya. Ya selanjutnya pak,” Saif terbata.
“Ya selanjutnya, ya selanjutnya. Ya opo?” tanya bapak Zizi.
“Melamar pak!” jawab Saif. Tegas.
“Oh, melamar. Nanti bapak bilang dulu ke ibu,” ucap bapak Zizi seraya bergegas ke dapur.
Sebenarnya, sedari tadi mata Saif jelalatan melihat kesana-sini, mencari sosok yang akan dilamarnya, “Zizi mana yah?” bisiknya dalam hati.
Di dapur, terdengar suara percakapan antara bapak Zizi dan ibu Zizi,
“Buuu, ini ada nak Saif yang kemarin datang menazhor puteri kita. Dan sekarang dia datang lagi. Katanya mau melamar puteri kita bu. Ibu bagaimana? Setuju!” tanya bapak.
“Tahun depan saja pak. Kita biarkan agar mereka lebih mengenal satu sama lain dahulu,” jawab ibu.
“Loh, itu gak boleh bu. Itu namanya kita membiarkan mereka berpacaran. Dan itu dilarang oleh agama kita,” terang bapak.

*****

Alhamdulillah, ahirnya lamaran Saif pun diterima. Dia begitu bersyukur seraya menahan haru. Seorang lelaki yang sering dianggap nyeleneh dan suka bergurau oleh sebagian teman-temannya, kini akan menikahi seorang wanita sholihah yang cantik jelita. Menjadi pendamping hidupnya dalam suka-duka sebagai ibadah teringgi kepada Dzat Yang Maha Kuasa, demi mewujudkan sakinah, mawaddah wa rahmah.
“Alhamdulillah za, lamaranku diterima,” pesan Saif kepadaku.
“Alhamdulillah, selamat saudaraku. Terus, rencananya kapan?” tanyaku.
“Insyaallah sebulan lagi,” jawabnya. Tidak lupa menyertakan ^_^ tanda bahwa dia sedang berbahagia.
“Muyassar (dimudahkan) insyaallah,” do’aku untuknya.
“Aamiin. Syukron za,” balasnya.

Selang seminggu atau dua minggu setelah percakapan melalui What’ups, Saif datang berkunjung ke Jakarta. Kita bertemu di tempat pengabdianku dahulu; Yayasan Al-Sofwa Lenteng Agung Jakarta Selatan.
Saat pertamakali berjumpa, wajahnya nampak lain, beda seperti wajahnya di hari-hari yang berlalu. Dulu, wajahnya seperti awan hitam; mendung, seram, berkilat-kilat, bergemuruh pertir, hujan deras. Siapa pun yang melihatnya, akan langsung bersedia payung atau bahkan bersedia perahu. Sedia payung dan perahu sebelum Saif berwujud. Hehe ^_^ 

Tapi kini, wajahnya penuh warna bagai pelangi, bahkan mengaurora berkilau-kilau. Apalagi dia membelikan untukku sebotol minuman segar. Sungguh memang begitu seharusnya, keceriaan wajah harus digambarkan dengan keceriaan tingkah. Maka tampaklah seperti pelangi yang berwarna-warni bersanding dengan pemandangan gunung yang bertumpukan awan-awan putih lembut, kemudian di bawahnya nampak samudera lautan meluas, airnya mengombak-ombak, berdebur merdu, memanjakan telinga orang yang mendengar, dan menyedapkan pandangan mata orang yang melihat. Subhanallah, andai pemandangan seperti itu terdapat pada pribadi manusia. Berjalan hilir-mudik dengan penuh kepesonaan dan keindahan. *Semoga penulis dan pembaca bisa menjadi pribadi yang seperti itu. Katakan! “Aamiin.” ^_^
“Za, ternyata ini hikmah di balik kesabaranku selama ini,” tiba-tiba dia mulai curhat, “Awalnya aku tidak betah mengajar di tempat ini (Bekasi). Aku selalu ingin pulang kampung (Sumatera). Mengajar anak-anak SD menguras banyak tenaga dan pikiran. Namun kemudian, Allah membuka hatiku, aku bersabar, berusaha menjalani semuanya dengan ikhlas dan tabah. Sehingga ahirnya, tersingkaplah rahasia indah rencana-Nya,” ungkapnya sepenuh jiwa.

Mendengar penuturannya tersebut, hatiku bergetar dan hampir saja air mataku meleleh. Betapa terasa dan teringat, bahwa memang Allah sungguh tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang bersabar, “Sesungguhnya, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang sentiasa berbuat kebaikan.” (Yusuf : 90)
“Allah menghendaki kemampuan bagiku untuk bersabar, dan ternyata ada kehendak lain setelahnya yang lebih manis; yaitu menghadiahkanku seorang bidadari,” tuturnya lagi.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah, bersyukurlah wahai saudaraku, engkau akan melengkapi setengah agamamu,” seruku.
“Oh iya, calon istriku itu punya adik perempuan, yang sepertinya sudah siap menikah juga. Barangkali kamu mau,” tiba-tiba saja dia menawarkan.
Aku hanya tersenyum.
“Kakaknya cantik, adiknya juga pasti cantik,” rayunya.
“Alhamdulillah, terimakasih,” ucapku sambil tersenyum, “Terus kapan hari jadi nikahnya?” segera tanyaku seraya mengalihkan pembicaraan.
“Insyaallah, sebulan lagi,” jawabnya.

The End

***Untuk sahabatku sekaligus saudaraku, aku ucapkan terimakasih untuk inspirasinya. Cerita hidupmu sungguh bermakna dan penuh ibrah. Oleh karenanya, aku tulis.

Dan ma’af jika ada kesalahan atau kelebaian dalam kalimat-kalimat di cerita  ini.. Cerita ini aku tulis secara fiksi, namun tidak jauh dari realita yang ada. Sumber dari kehidupan asli seorang pemuda bernama; SAIF hafizhahullah wa iyyana.